VIVAnews - Sebuah studi baru-baru ini menyatakan, pada 2020 akan ada 24 juta pria lajang di Cina. Kemungkinan, mereka akan terus melajang, karena jumlah wanita di negara Tirai Bambu itu tidak sebanding dengan jumlah kaum prianya.
Menurut penelitian, perbedaan signifikan antara jumlah wanita dan pria berawal dari kepercayaan, kelahiran bayi laki-laki sangat dinanti-nantikan keluarga. Kebijakan ini dimulai pada 1979. Sedangkan, bayi perempuan kerapkali tidak diterima di keluarganya. Akibatnya, banyak ibu hamil melakukan aborsi. Hasilnya, berdasarkan penelitian ini pertumbuhan kaum pria jauh lebih dominan dibandingkan jumlah wanita.
Rasio perbandingannya diperkirakan 130 pria dengan 100 wanita di beberapa daerah. Pemerintah Cina pun, menurut penelitian tampaknya tidak melakukan antisipasi menghadapi masalah ini. Sehingga bisa menyebabkan ancaman akan banyaknya generasi kamu pria masa depan yang lajang.
Bahkan, Akademi Ilmu Sosial di Cina menyatakan akan terjadi ketidakseimbangan gender. “Ini merupakan masalah demografis paling serius,” kata salah seorang peneliti. Akan banyak jiwa-jiwa kesepian yang lebih tergantung pada jaminan sosial. Dan, sumber daya rumah tangga yang bisa diandalkan akan semakin berkurang. Karena, rata-rata sumber daya rumah tangga di negara ini adalah kaum wanita.
Ramalan ini sempat meresahkan para peneliti. Masalahnya, untuk penduduk Cina di daerah pedesaan justru sangat mengandalkan anak-anak mereka untuk menegakkan kesejahteraan keluarga, ketimbang merelakan anaknya menikah dan memiliki keturunan. Para peneliti takut kenaikan ini akan menyebabkan lebih banyak kejahatan, pelacuran paksa dan perdagangan perempuan.
Untuk itu, bagi para wanita lajang, mengapa tak melancong ke Cina untuk sekadar berlibur. Siapa tahu, sambil berlibur Anda menemukan jodoh pria lajang asal negara Tirai Bambu ini.