Beda Popok Kain dan Popok Sekali Pakai

Dua popok ini punya kelebihan dan kekurangan.

Rabu, 12 Januari 2011, 11:38 WIB
Petti Lubis, Anda Nurlaila
Bayi Pakai Popok (inmagine.com)

VIVAnews - Para ibu modern kini lebih memilih menggunakan popok sekali pakai (diapers) sebagai pengganti popok kain. Survei terhadap 3.000 orangtua yang memiliki bayi di ASEAN termasuk Indonesia menunjukkan, kebanyakan orangtua mulai menggunakan popok bayi sekali pakai sejak dini, bahkan sejak bayi baru lahir.

Sebanyak 80 persen orang tua terutama di perkotaan menggunakan popok sekalipakai daripada popok kain dengan alasan kepraktisan. Para ibu yang memiliki bayi dengan gerakan mulai aktif di usia 0-6 bulan, mayoritas mengaku kesulitan menempatkan posisi popok di tengah serta merekatkannya.

Hal itu senada dengan survei Nielsen selama 2008-2010, yang memperlihatkan popok sekali pakai mendorong pertumbuhan kebutuhan sehari-hari (personal) care hingga 145 persen.

Meisya Siregar, aktris yang juga memiliki bayi baru lahir mengungkap popok sekali pakai membantu ibu dan bayi. Sensitivitas bayi sekaligus gerakan yang aktif dari anak keduanya, Song Louisa Mu'khadijah (tiga bulan) membuat Meisya memilih yang popok lebih praktis.

"Popok yang sesuai dan lembut bagi kulit dan gampang dipakaikan membantu pekerjaan ibu. Popok celana lebih cepat dipakai sehingga membuat waktu ibu dan bayi lebih berkualitas," katanya.

Penggunaan popok dalam sejarah manusia telah tercatat dalam dokumen Mesir, Aztec, Romawi kuno yang melukiskan kegiatan sehari-hari. Awalnya popok terbuat dari kulit  binatang, lumut, linen, dedaunan dan sejenisnya. Di akhir abad ke-19, bayi-bayi di Eropa dan Amerika Utara mulai mengenakan popok kain, dari linen atau flanel.

Popok kain langsung digemari karena bahannya yang halus membuat bayi merasa nyaman, kering dan mudah bergerak. Bahan yang tipis, dapat dicuci berulang-ulang dan disertai gambar serta pilihan warna sangat digemari kaum ibu di belahan dunia utara.

Namun di balik kelebihannya popok kain memiliki kekurangan seperti tidak praktis saat bepergian, menyulitkan saat si kecil buang air besar atau kecil serta perlu mengganti popok berkali-kali. Terlebih lagi perlu upaya ekstra untuk membersihkan popok kain.

Revolusi popok sekali pakai mulai diperkenalkan pada 1942 dan berubah menjadi industri sejak 1950-an. Hingga kini, popok sekali pakai telah menjadi  pilihan bagi para ibu rumah tangga dan terus meningkat permintaannya.

Belakangan, isu lingkungan memunculkan inovasi termasuk  popok. Meski masih dalam jumlah relatif kecil, orangtua mulai  melirik popok kain plus-plus atau cloth diapers, disingkat 'clodi'. Popok jenis ini menampung urin seperti popok sekali pakai namun dapat dicuci dan digunakan berkali-kali layaknya popok kain. 



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
mazasupa
12/01/2011
Bahan pospak yang mirip pembalut perempuan juga bisa menjadi salah satu penyebab kanker serviks pada perempuan. Dari seluruh penderita kanker di Indonesia, sepertiganya adalah penderita kanker serviks! Di dunia, setiap 2 menit, seorang wanita meninggal ak
Balas   • Laporkan
mazasupa
12/01/2011
alasan kesehatan: Pada bayi laki-laki, suhu yang panas akibat pemakaian pospak lama-kelamaan bisa mempengaruhi produksi sperma, sehingga menurunkan tingkat kesuburan di masa dewasanya.
Balas   • Laporkan
mazasupa
12/01/2011
Alasan Kesehatan * Bahan kimia dan pemutih yang terkandung dalam pospak dapat menyebabkan iritasi pada kulit bayi karena menghasilkan uap panas.
Balas   • Laporkan
mazasupa | 12/01/2011 | Laporkan
Pada bayi laki-laki, suhu yang panas akibat pemakaian pospak lama-kelamaan bisa mempengaruhi produksi sperma, sehingga menurunkan tingkat kesuburan di masa dewasanya.
surya12
12/01/2011
praktis2....emang praktis buat yg g py duit
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial