Studi: 'Menjilat' Atasan Bikin Hidup Sehat

Pekerja yang tidak disenangi bos cenderung akan menerima tekanan psikologis.

Sabtu, 11 Juni 2011, 11:00 WIB
Pipiet Tri Noorastuti, Febry Abbdinnah
hubungan kerja di kantor (inmagine.com)

VIVAnews - Mungkin Anda sering melihat sejumlah rekan kerja yang pandai mengambil hati atasan. Rasa kesal tak jarang muncul, ketika aksi itu membuat mereka menerima promosi jabatan atau kenaikan gaji. Terlepas efek buruknya terhadap lingkungan sekitar, sebuah studi mengungkap bahwa 'menjilat' bos membuat hidup lebih sehat. 

Studi yang diterbitkan di Journal of Management Studies itu mengungkap bahwa tindakan semacam itu justru dapat mengurangi tekanan psikologis di tempat kerja. Tak hanya terhadap atasan, kemampuan seseorang merebut hati rekan kerjanya juga dapat menjauhkannya dari tekanan psikologis serupa.

Hasil studi itu menunjukkan, kemampuan seseorang melancarkan politik 'cerdas' untuk mengambil hati atasan dan rekan kerjanya akan meminimalisir terjadinya tekanan psikologis akibat pengucilan di lingkungan kerja.

Studi tersebut juga mengungkap bahwa pekerja yang mengalami pengucilan atau tidak disenangi bos cenderung akan menerima tekanan pekerjaan yang lebih berat, kelelahan emosional, dan kehilangan kreativitas serta produktivitas akibat tekanan yang muncul.

Berdasar survei terhadap 262 karyawan selama lebih lima tahun, sebanyak 29 persen dari 66 persen responden yang merasa diabaikan oleh bos atau rekan kerja memutuskan meninggalkan pekerjaan mereka (resign). Ini menunjukkan bahwa pengucilan di tempat kerja menjadi faktor pemicu stres individu yang berdampak pada kesehatan.

Dalam studi terhadap 215 karyawan di dua perusahaan minyak dan gas di China. tersebut, peneliti menguji hubungan antara kemampuan berpolitik di tempat kerja dan pengucilan di tempat kerja serta tekanan psikologis karyawan. "Data menunjukan bahwa pengucilan di tempat kerja berhubungan dengan tekanan psikologis," ujar Ho Kwong Kwan, salah satu penulis studi.

Menurutnya, proses mengambil hati dapat menetralisir hubungan antara pengucilan di tempat kerja dengan tekanan psikologis bila dilakukan oleh karyawan yang memiliki ketrampilan berpolitik. Namun, akan terjadi sebaliknya jika dilakukan oleh karyawan yang tidak pandai berpolitik.

Sementara jalan menuju kesuksesan dan kesehatan muncul dari 'menjilat', penulis studi memiliki saran yang lebih baik. Mereka mengatakan bahwa perusahaan harus menciptakan budaya yang menghambat munculnya pengucilan di tempat kerja dengan menyediakan pelatihan kepada manajer dan karyawan. Hal ini akan meningkatkan harga diri dan kepercayaan diri karyawan, mendorong teknik pemecahan masalah yang efektif, dan meningkatkan ketrampilan berpolitik karyawan. (umi)



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
imron
21/06/2011
Ngak usah pake bahasa "penjilat" lah.. yang namanya penjilat ya tetap aja penjilat... Realistis Aja itu yang lebih penting. Namanya kerja punya risiko masing-masing
Balas   • Laporkan
kucinghitam
14/06/2011
ABS (Asal Bapak Senang), SHS (Saya pun Hidup Sehat) :D
Balas   • Laporkan
bangbogang
12/06/2011
makanya kalo gak seneng jadi bawahan ya jadi boss aja .... nggak ada ceritanya jadi "bawahan itu enak" ..... kunci nya wiraswasta aja walau berat .....
Balas   • Laporkan
johndelwinto
11/06/2011
Studi apaan itu? Pasti yang melakukan studi itu adalah para penjilat. Saya sehat-sehat saja tanpa menjilat! Kacian deh para penjilat dan para bos suka dijilat! Screw you boss!!
Balas   • Laporkan
johndelwinto
11/06/2011
Kalau saya tidak akan menjilat. Tapi bos saya akan saya beritahu keadaan yang sebenarnya. Suka tidak suka. Emangnya yang ngasih rejeki bos saya? Huhh! Rejeki saya ditanggung Tuhan. Dia akan kirim bos - bos lain yang realistis.
Balas   • Laporkan
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial