Pecahkan Rekor MURI

Ajari Anak Membatik Sejak Dini

Sejumlah anak kelas lima SD turut partisipasi dalam pagelaran batik 1.500 canting.

Sabtu, 24 Oktober 2009, 18:53 WIB
Antique, Purborini
  (VIVAnews/Fajar Sodiq)

VIVAnews - Mata kecil itu mebelalak menatap letupan cairan cokelat pekat dihadapannya. Canting ditangan kanannya terampil meraih cairan malam tersebut. Tak ketinggalan mulutnya pun tak berhenti menghembus udara. Bau minyak tanah dan asap malam tak ia indahkan.

Lela, gadis kelas lima sekolah dasar itu tengah merasakan pengalaman pertamanya membatik. "Resep (suka dalam bahasan sunda)," kata dia di lokasi batik massal di Sevilla International School, Pulo Mas Jakarta Timur, Sabtu, 24 Oktober 2009.

Ia dan 40 teman sekolahnya turut partisipasi dalam pagelaran batik 1.500 canting. Lela mengaku walau suka batik, ia tak memiliki baju berkain batik. "Ngga punya," aku Lela. Ia mengakui, hanya ayah dan ibunya saja yang menggunakan batik. "Kalau ke undangan saja," kata dia.

"Kegiatan ini merupakan salah satu wujud kecintaan kami terhadap batik, sekaligus untuk mengangkat kesadaran generasi muda selaku warisan budaya bangsa yang telah diakui dunia," kata Presiden Direktur Sevilla International School Sudhamek AWS dalam sambutannya.

Sejarah pembatikan di Indonesia terkait dengan perkembangan kerajaan Majapahit dan sesudahnya. Awalnya, batik hanya dikerjakan kalangan terbatas keraton. Kini Btik menjadi pakaian rakyat yang digemari baik wanita dan pria.

Batik mulai meluas pada akhir abad ke 18 atau awal abad 19. Ketika itu batik yang dihasilkan merupakan batik tulis. Seni batik kemudian mengenal batik cap. Seni ini dimulai pada abad ke 20 setelah perang dunia kesatu atau sekitar tahun 1920.

Kesenian Batik sendiri saat ini telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya bangsa. Pemerintah sendiri menetapkan tanggal 2 Oktober sebagai hari batik.

Lela bersama 1.783 peserta mencanting disibukkan menuliskan malam pada selembar kain katun berukuran 30x30. Kain itu sudah terpola.

Menurut penanggungjawab, Suryaningsih, ada 10 macam pola batik yang akan dicanting para peserta. "Para guru Sevilla dan Central School yang menggarapnya," ujar dia.

Adapun mengenai peralatan, panitia menyediakan 150 meter kain yang telah dipotong-potong, 30 kilogram malam, 1732 canting dan 300 wajan beserta kompor minyak tanah kecil. Rencananya, kata Suryaningsih, kegiatan hari ini akan dicatat sebagai rekor oleh Musium Rekor Indonesia. "Untuk Pembatik Tulis Terbanyak," seru dia.

antique.putra@vivanews.com



• VIVAnews   |   Share :  
Rating
Komentar
Belum ada komentar untuk ditampilkan pada artikel ini.
Kirim Komentar
Anda harus Login untuk mengirimkan komentar
atau 
  
webtorial